Kisruh Aplikasi Umroh dalam Pusaran Arus Ziarah Digital

Kisruh Aplikasi Umroh dalam Pusaran Arus Ziarah DigitalIlustrasi (REUTERS/Suhaib Salem)

LENSAPANDAWA.COM – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) negara Indonesia dan Arab Saudi bekerja sama untuk memperkuat ekonomi digital. Arab Saudi juga terus-terusan untuk mengembangkan sektor industri non-minyak sebagai visi utama pada 2030.

Kerja sama ini juga membahas kolaborasi digital, salah satunya adalah pengembangan Umrah Digital Enterprise. Kolaborasi ini melibatkan dua unicorn asal Indonesia, Tokopedia, Traveloka dan perusahaan teknologi asal Arab Saudi, Wadi Makkah. Hasil kolaborasi ini adalah aplikasi platform umrah digital.

Menkominfo Rudiantara menegaskan aplikasi ini tidak akan berperan sebagai Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU). Saat pertama kali kolaborasi diumumkan, muncul isu liar yang menyebabkan keresahan bahwa aplikasi akan menggantikan PPIU.

Padahal penyelenggaraan perjalanan umrah sudah diatur dalam Pasal 86 ayat 2 UU No 8 Tahun 2019 bahwa perjalanan umrah diselenggarakan PPIU.

Rudiantara mengatakan keberadaan aplikasi semakin memudahkan jemaah untuk perjalanan umrah termasuk pengurusan akomodasi, pemilihan fasilitas hingga pengurusan visa.

“Integrasi sistem mulai dari keuangan, perjalanan, hingga pengiriman barang akan menciptakan transparansi tata kelola umrah yang menguntungkan jemaah Indonesia sekaligus mendorong terciptanya kompetisi yang sehat antar biro travel umrah dalam menyediakan layanan yang maksimal bagi jemaah,” ujar Rudiantara.

Bagi Rudiantara, umrah digital ini bisa menjadi pilihan alternatif biro travel yang memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan. Masyarakat tidak perlu ragu melakukan perjalanan umrah karena pengelolaannya transparan dan bisa dipantau secara online.

“Selama ini tantangan pengelolaan umrah dengan minat jemaah yang besar adalah masih adanya biro travel yang tidak bertanggung jawab dan melakukan penipuan,” kata Rudiantara. Dari segi bisnis, Pengamat Ekonomi Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi menganggap aplikasi bisa mengakselerasi bisnis PPIU dan seluruh pemain di ekosistem penyelenggaraan perjalanan ibadah umrah.

“Saya rasa yang dilakukan para aplikator ini sangat baik untuk katalis bisnis umroh. Karena mereka berfungsi menyiapkan platform,” kata Fithra.

Aplikasi yang akan menyediakan aspek teknologi dalam ekosistem penyelenggaraan perjalanan umrah disebut akan membuat proses bisnis lebih efisien dan lebih mudah. Belum lagi aplikasi dipastikan akan memberikan transparansi tata kelola umrah, termasuk dari kepastian harga.

“Terlebih lagi, mereka sudah memiliki basis user yang cukup besar. Dalam hal ini saya melihat proses bisnis akan menjadi lebih mudah dan efektif. Kepuasan konsumen juga akan meningkat,” ujar Fithra.

“Di sisi yang lain, seharusnya para penyelenggara umrah existing bisa sangat terbantu, karena mereka akan masuk dalam ekosistem digital dengan basis pengguna yang luas,” lanjutnya.

Fithra menjelaskan teknologi sudah memberikan keuntungan di berbagai industri lain, contohnya industri makanan, minuman, dan pariwisata. Ketika teknologi hadir berupa platform aplikasi, omzet para pelaku bisnis meningkat.

“Membicarakan Usaha mikro kecil menengah itu terbantu dengan pembayaran online yang memudahkan sehingga omset mereka meningkat secara signfikan,” ujarnya.

Dalam umrah digital, Fithra mengatakan PPIU selayaknya pelapak di e-commerce dan pedagang di layanan pembayaran digital. Platform umrah digital membutuhkan PPIU agar bisa menjalankan bisnis umrah digital.

“Pada pada dasarnya mereka platform, mereka tidak bisa bisnis sendiri, mereka butuh orang lain untuk masuk ke sistem mereka,” kata Fithra.

Fithra menjelaskan dengan adanya platform umrah digital, PPIU bisa menjangkau pasar yang lebih luas. Peningkatan jangkauan ini beriringan pula dengan peningkatan omzet.

Pasalnya, Tokopedia dan Traveloka menurut Fithra telah memiliki basis pengguna yang sangat besar. Apabila PPIU bergabung dengan platform, Fithra mengatakan PPIU bisa memanfaatkan basis pengguna yang besar tersebut.

“Ketika PPIU dikumpulkan dalam platform maka jaringan akan semakin besar. Bisnis juga semakin terkerek karena basis pengguna yang besar. Sehingga PPIU bisa menghadapi pasar yang lebih besar,” kata Fithra.

Fithra tidak memungkiri bahwa PPIU memang telah memiliki jaringan dan basis pengguna sendiri. Akan tetapi, Fithra mengingatkan kolaborasi tentu akan semakin memperluas jaringan basi pengguna dan membuat bisnis lebih efisien.

“Kita harus lihat filosofi secara umum, ketika pemain semakin banyak dan semakin melengkapi itu semakin efisien bisnisnya. Bisa kita lihat di Gojek dan Grab memang di satu sisi mereka bersaing tapi di sisi lain mereka ciptakan basis pengguna besar sehingga pasar bisa kenali ekosistem baru ini,” kata Fithra.

Di era digital ini, Fithra menekankan kolaborasi perlu dilakukan untuk mendukung ekosistem bisnis. Pemerintah mau tak mau melakukan kolaborasi dengan Tokopedia dan Traveloka karena memiliki keterbatasan di sisi teknologi.

“Di era digital, ideologinya adalah ideologi kolabroasi bukan kompetisi. Apalagi pemerintah punya keterbatasan dan bisa dikompensasi oleh Tokopedia dan Traveloka,” tutur Fithra.

Comment here