Mahasiswa KKN-PPM UGM bangun instalasi penjernih air di Rasau Jaya

Mahasiswa KKN-PPM UGM bangun instalasi penjernih air di Rasau JayaMahasiswa KKN-PPM UGM menjelaskan cara kerja instalasi penjernih air sungai di hadapan Bupati Kubu Raya Muda Mahendrawan dan Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Alumni UGM Paripurna di Rasau Jaya, Kubu Raya, Kalimantan Barat, Sabtu. (FOTO ANTARA/Luqman Hakim)

LENSAPANDAWA.COM – Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta melalui program Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) membangun instalasi penjernih air sungai di kawasan transmigrasi di Kecamatan Rasau Jaya, Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Koordinator mahasiswa KKN, Monika Listania Yuliandari di Rasau Jaya, Kubu Raya, Kalimantan Barat, Sabtu, mengatakan pemasangan instalasi penjernih air sungai menjadi salah satu program utama KKN karena kebutuhan air bersih masih menjadi persoalan utama bagi masyarakat yang hidup di kawasan lahan gambut di Desa Rasau Jaya satu dan Rasau Jaya tiga.

"Di sini air sungai bercampur dengan gambut sehingga warnanya merah kecokelatan. Air seperti itu tidak layak dimanfaatkan masyarakat baik untuk mandi, mencuci, apalagi untuk minum," kata Monika.

Menurut Monika, memasuki musim kemarau, kebutuhan air bersih semakin menjadi persoalan masyarakat di Rasau Jaya. Kendati tidak dikonsumsi sebagai air minum, namun air sungai yang keruh atau cenderung berwarna merah kecokelatan itu biasanya digunakan sebagian besar warga untuk keperluan mandi, buang air, serta mencuci (MCK).

"Kalau digunakan mandi terus menerus bisa memunculkan penyakit kulit," kata dia.

Ia mengatakan air sungai di kawasan itu memiliki kadar TSS ( total suspended solid) 232 miligram per liter dengan pH yang rendah hanya mencapai angka 3–4 sehingga tidak memenuhi baku mutu untuk bisa digunakan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari (MCK).

Dengan memasang instalasi penjernih air, Tim KKN UGM berhasil menurunkan kadar TSS air menjadi 68 mg/L dengan pH 6-6,5 sehingga lebih layak digunakan masyarakat.

"Tetapi air yang telah dijernihkan melalui alat ini baru bisa digunakan untuk mandi, mencuci, dan buang air, kalau untuk minum masih belum layak," kata Monika.

Instalasi pemurnian air yang saat ini dipasang di belakang Puskesmas Rasau Jaya tersebut dibuat menggunakan material yang terjangkau dan mudah diperoleh, dengan proses yang meliputi koagulasi, sedimentasi, dan filtrasi. Dalam proses tersebut, air sungai dipompa dan dialirkan melewati klorin yang berfungsi untuk membunuh bakteri.

Air tersebut kemudian ditampung di tandon untuk mengalami proses koagulasi dengan penambahan pH-up dan PAC yang kemudian diendapkan. Air yang telah jernih kemudian difilter untuk menghilangkan sisa material serta sisa padatan ke dalam tangki penyimpanan selanjutnya bisa digunakan masyarakat.

"Kami berharap ke depan alat ini bisa dipasang di titik-titik strategis di perkampungan dan bisa dikembangkan. Selama ini kalau air dari tadah hujan habis kami mendatangkan air dari PDAM yang per satu tangki (5.000 liter) harganya mencapai Rp2-Rp3 juta," kata Camat Rasau Jaya, Suhartono.

Selain pemurnian air, program unggulan KKN di Rasau Jaya dengan fokus utama pembangunan berkelanjutan juga mencakup pariwisata, pemetaan desa, pembangunan basis data wilayah, serta analisis wilayah.

Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan mengapresiasi program yang dijalankan 27 mahasiswa KKN UGM di wilayahnya sejak 30 Juni 2019.

Program itu, menurut dia, bisa menjadi masukan arah kebijakan pemerintah dalam menyejahterakan masyarakat. "Ini bisa menjadi bahan diskusi untuk kami mengeluarkan kebijakan bersama," kata dia.

Program KKN-PPM UGM KB 008 bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pengembangan Kawasan Transmigrasi Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi dilakukan sejak 30 Juni 2019 dengan mengusung tema "Revitalisasi Kawasan Transmigrasi.

Dirjen PKT Kemendes PDTT, Muhammad Nurdin menyebut kawasan transmigrasi masih memiliki potensi yang besar, terutama untuk mendukung kemandirian pangan. Oleh karena itu, kerja sama dengan UGM menjadi langkah strategis untuk mendukung optimalisasi fungsi kawasan transmigrasi.

"Kami masih melihat ada kawasan transmigrasi yang belum optimal. Karena itu program revitalisasi menjadi yang paling penting agar produktivitas bisa meningkat," kata Nurdin.

Demikian berita ini dikutip dari ANTARANEWS.COM untuk dapat kami sampaikan kepada pembaca sekalian.

Comment here