LIPI: Dana Peta Rendaman Tsunami Jawa ‘Hanya’ Rp500 Juta

LIPI: Dana Peta Rendaman Tsunami Jawa 'Hanya' Rp500 JutaIlustrasi (iStock/jcrosemann)

LENSAPANDAWA.COM – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan peta rendaman tsunami pantai Selatan Jawa akan memakan dana sebesar Rp500 juta. Peta akan berguna untuk perencanaan tata ruang wilayah pesisir di setiap wilayah Indonesia.

Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Eko Yulianto mengatakan peta ditargetkan akan selesai pada tahun 2020 mendatang dengan tahap awal di 12 daerah yang memiliki kerentanan bencana tinggi seperti Pangandaran, Cilacap, Kebumen, Purworejo, Yogyakarta, dan Pacitan.

“Dananya hanya 500 juta. Itu anggaran dari DIPA LIPI. Kami berharap peta tersebut tak hanya tsunami, tapi gempa bumi ke depannya,” kata Eko dalam jumpa pers di LIPI, Jakarta Selatan, Kamis (25/7).

Peta tersebut memiliki skala 1:10.000 dan akan lebih detail menggambarkan rendaman tsunami. Ia mengatakan peta topografi yang paling detail di Indonesia skalanya baru 1:25.000.

Peta skala itu juga hanya melingkupi Jawa. Eko menjelaskan Di luar wilayah Jawa, skalanya lebih tidak detail. Peta berskala besar diharapkan bisa menjadikan acuan untuk mengurangi risiko bencana. Peta akan mengombinasikan peta batimetri, peta topografi, dan basis parameter sumber gempa.

“Jadi kita model kan tsunami dengan basis parameter sumber gempa. Kalau gempa 9 skala richter maka akan mengangkat ke atas volume air laut, seberapa banyak yang dikirim kan ke daratan, kemudian butuh peta batimetri, dan peta topografi berskala besar,” kata Eko.

Eko mengatakan akan membeli peta batimetri dan peta topografi. Pasalnya akan memakan waktu lebih lama dan biaya lebih besar apabila LIPI harus membuat peta sendiri.

Eko mengatakan tanpa rencana mitigasi yang jelas, Pemda justru akan kurang efektif dalam penanggulangan pengurangan risiko bencana. Pemda tidak tahu komponen apa yang harus diperhatikan terlebih dahulu untuk mengurangi risiko lebih efektif.

“Tanpa itu semua (peta mitigasi), yang kita lakukan sebenarnya hal-hal yang sifatnya sporadis. Ibarat kita seperti disuruh berperang atau disuruh berkelahi tapi mata kita ditutup. Jadi kita lakukan sebisa-bisanya tapi kita tidak tahu yang kita lakukan bermanfaat atau tidak,” ujar Eko.

Demikian berita ini dikutip dari CNNINDONESIA.COM untuk dapat kami sampaikan kepada pembaca sekalian.

Comment here