Cara Waze Tak Tertipu Manipulasi 99 Ponsel Macam Google Maps

Cara Waze Tak Tertipu Manipulasi 99 Ponsel Macam Google MapsIlustrasi. Cara Waze agar tidak terkecoh seperti Google Maps. (CNN Indonesia/Laudy Gracivia)

LENSAPANDAWA.COM – Ketua Komunitas Waze Indonesia, Christian Iskandar mengklaim manipulasi kondisi lalu lintas jalanan dengan 99 ponsel yang terjadi di Google Maps bisa terjadi juga di Waze. Akan tetapi, dia menyebut hal itu sulit terjadi karena peta digital memiliki beberapa fitur untuk menangkal hal ini terjadi.

Beberapa fitur itu adalah adanya pemeringkatan kepercayaan dari laporan pengguna dan fitur komentar dari pengguna.

“Kalau di kami (Waze) keuntungannya ada user based, dalam artian bisa melapor,” ujar Christian kepada CNNIndonesia.com, Rabu (5/1).

Hal ini diungkap Christian menanggapi kasus tertipunya peta digital Google Maps akibat ulah seorang seniman Amerika, Simon Weckert. Ia berhasil membuat kemacetan palsu di aplikasi Google Maps.

Caranya dengan membuka aplikasi Google Maps pada 99 ponsel yang ia taruh di gerobak. Ia lantas menyusuri sebuah jalan sembari membawa 99 ponsel yang sedang mengaktifkan Google Maps itu.

Weckert memanfaatkan kelemahan Google Maps yang bergantung pada data crowdsourcing dalam menentukan kondisi lalu lintas jalanan. Crowdsourcing artinya pengumpulan data dilakukan lewat kumpulan data yang diambil dari sekelompok besar orang yang sedang menyalakan aplikasi Google Maps.

Christian lantas menuturkan kalau Waze punya sejumlah cara untuk menghindari kasus pengecohan ini. Ia menuturkan soal tingkatan pengguna yang ada di aplikasi tersebut. Semakin aktif pemakai menggunakan Waze, makin tinggi levelnya.

Setiap pengguna memiliki tingkatan masing-masing di sistem Waze. Makin tinggi tingkatannya, makin terpercaya informasi lalu lintas yang diberikan.

Ia lantas mencontohkan tingkatan dirinya sebagai salah satu editor Waze punya tingkat kepercayaan sangat tinggi. Sehingga, pergerakan Christian di jalanan dinilai menggambarkan situasi jalanan yang sebenarnya. Sehingga, ia menjadi sebagai salah satu acuan yang benar dalam menentukan situasi lalin.

[Gambas:Video CNN]

“Di Waze itu ada nilai-nilai trusted-nya, tapi secara sistem saya tidak tahu. Misalnya seperti saya yang sudah lama pakai Waze ada level-levelnya, (seperti) editor dan segala macam,” ujarnya.

Cara lain agar Waze tak terkecoh seperti Google Maps adalah lewat fitur komentar pengguna. Dia berkata komentar yang dibagikan pengguna ikut memvalidasi setiap informasi yang ada di platform itu.

“Kalau di Waze itu kita bisa kasih laporan ‘tidak macet kok’. Misalnya jalannya (sebenarnya) longgar, tapi di peta kelihatannya macet, kita bisa lapor,” ujar Christian.

Komentar pengguna juga menurutnya menjadi prioritas Waze dalam memperbaiki informasi keadaan lain, selain dari pengguna lain yang juga ada di jalan tersebut.

Menanggapi kasus pengecohan tersebut, Google juga sempat berkilah kalau sistem mereka sudah bisa membedakan antara pengendara motor dan mobil. Namun, mereka memang tak dapat mendeteksi pengendara gerobak.

Serupa dengan Google, Waze pun bisa membedakan pengguna mobil dan motor. Namun, belum bisa mendeteksi benda bergerak lain seperti gerobak.

“Sebetulnya secara indikator bisa dideteksi, tapi itu dilakukan secara otomatis saya tidak tahu,” ujarnya.

Waze adalah peta digital buatan perusahaan Israel. Namun, pada 2013 layanan peta digital ini diakuisisi oleh Google.

Demikian berita ini dikutip dari CNNINDONESIA.COM untuk dapat kami sampaikan kepada pembaca sekalian.

Comment here