Waspadai Corona, dua mahasiswa Nunukan dari China tiba di Sebatik

Waspadai Corona, dua mahasiswa Nunukan dari China tiba di SebatikMal Joycity di kawasan perbelanjaan Xidan, Beijing, ramai pengunjung pada 18 Januari 2020 menjelang liburan Imlek. ANTARA/M. Irfan Ilmie

LENSAPANDAWA.COM – Dua mahasiswa asal Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara yang sedang menempuh pendidikan di China tiba di rumah orangtuanya di Pulau Sebatik, karena khawatir terjangkit virus corona yang telah mematikan ratusan orang di negeri tirai bambu tersebut.

Sapriadi, mahasiswa yang baru tiba di Pelabuhan Liem Hie Djung Kabupaten Nunukan, Senin menceritakan, perjalanannya pulang ke kampung halamannya

setelah merebaknya virus corona di negara tempatnya kuliah.

Selama dua hari perjalanan dari Nianjing China menuju Bandara Sukarno Hatta dimana sebelumnya transit di Bangkok, Thailand.

Mahasiswa jurusan Bisnis Internasional Jiansu Institute Nianjing China ini mengatakan sempat dikarantina selama dua pekan atas instruksi kampusnya sebelum memutuskan pulang ke Pulau Sebatik Kabupaten Nunukan.

Namun dia katakan, selama merebaknya virus corona di China belum mendapatkan informasi adanya warga negara Indonesia (WNI) atau mahasiswa yang terjangkit, sebab letak Wuhan yang menjadi pusat pertama kali berjangkitnya virus corona jaraknya jauh dari Nianjing tempat tinggalnya.

"Selama disana saya tidak pernah dengar ada WNI atau mahasiswa yang terjangkit virus corona," ujar mahasiswa semester IV di Nianjing ini saat baru tiba di Pelabuhan Liem Hie Djung Tanah Merah Kelurahan Nunukan Barat.

Mahasiswa lainnya bernama Muh Sahrul, jurusan Ekonomi Digital di Jiansu Institute Nianjing CHina ini juga menuturkan kekhawatirannya atas virus corona sehingga memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Pulau Sebatik.

Meskipun biaya transportasi kembali ke tanah air ditanggung sendiri tetapi demi memuaskan kedua orangtuanya yang sangat khawatir atas keselamatannya.

"Saya pulang bersama Sapridi karena orangtuanya khawatir keselamatan di sana (Nianjing)," ujar Muh Sahrul, mahasiswa semester IV di Nianjing ini.

Kedua mahasiswa Nunukan yanag menuntut ilmu di China ini mengaku ketika tiba di Bandara Sukarno Hatta dan Bandara Juwata Tarakan tidak pernah diperiksa oleh petugas kesehatan hingga tiba di Kabupaten Nunukan.

"Saya tidak pernah diperiksa oleh petugas kesehatan waktu sampai di Bandara Sukarno Hatta dan Juwata Tarakan," beber kedua mahasiswa ini.

Kemudian, orangtua Sapriadi bernama Sirajuddin yang menjemputnya di Pelabuhan Liem Hie Djung mengucapkan terima kasih atas tibanya anak kandungnya dari China dengan selamat.

Ia menuturkan, selama mendapatkan berita soal virus corona merebak di China dengan korban yang sudah ratusan orang ini, dirinya sangat khawatir atas kondisi anaknya.

Oleh karena itu, kata pria yang berdomisili di Liang Bunyu Kecamatan Sebatik Barat ini menyatakan cepat berkomundikasi dengan anaknya menanyakan kondisinya dan mengajak pulang ke kampung halamannya untuk sementara waktu.

Sirajuddin mengatakan belum mengetahui kapan waktu untuk memberikan kesempatan kepada anaknya kembali kuliah di Nianjing.

"Sebelum ada kepastian kondisi China aman dari virus corona belum membiarkan dulu kembali ke sana. Nanti ada panggilan dari kampusnya baru melepaskan kembali ke China," tutur dia.

Bagaimanapun, anak kandungnya perlu menjaga diri dari virus corona ini sehingga meminta pulang dan meninggalkan kuliahnya.

Demikian berita ini dikutip dari ANTARANEWS.COM untuk dapat kami sampaikan kepada pembaca sekalian.

Comment here