Imbau Warga New Normal, Epidemiolog Beri Saran ke Pemerintah

Imbau Warga New Normal, Epidemiolog Beri Saran ke PemerintahPresiden Joko Widodo meninjau lokasi yang menjadi tempat penyebaran virus Corona. (Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

LENSAPANDAWA.COM – Epidemiolog dari Universitas Griffith, Dicky Budiman menyatakan indikator pemerintah dalam menentukan sebuah wilayah untuk kembali melakukan kegiatan sosial dan ekonomi masih minim. Dia mengatakan pemerintah harus menambah indikator agar kasus Covid-19 bisa ditanggulangi.

Dicky menuturkan indikator yang belum dipenuhi pemerintah adalah menyusun dan menerapkan tindakan pencegahan. Ada beberapa tempat yang harus disiapkan prosedurnya ketika dinyatakan aman untuk new normal, yakni di tempat kerja, sekolah, dan tempat penting lainnya seperti pusat perbelanjaan.

“Masih ada tiga lagi yang belum masuk,” ujar Dicky kepada CNNIndonesia.com, Selasa (26/5).

Khusus untuk sekolah, dia mengatakan sebelum memulai kegiatan belajar mengajar secara fisik sebaiknya pemerintah melakukan diskusi dan mendengar masukan dari perhimpunan dokter anak, ahli epidemiolog, ahli psikologi anak, perwakilan orang tua siswa atau tokoh pendidik, dan perwakilan profesi guru.

Lebih lanjut, Dicky menyampaikan indikator lainnya, yaitu penguatan sistem deteksi dan screening (penyaringan) di pintu masuk negara. Dia mengatakan indikator itu dapat mengelola risiko kasus Covid-19.

“Kemudian terakhir, negara harus sepenuhnya mendidik, melibatkan, dan memberdayakan masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan ‘normal baru’ kehidupan sehari-hari. Peran masyarakat ini sangat penting karena berkontribusi bisa 80 persen dalam penurunan angka reproduksi,” ujarnya.

Di sisi lain, Dicky berkata pemulihan ekonomi akan sangat bergantung pada keberhasilan dalam mengendalikan Covid-19. Berdasarkan survei, dia berkata publik lebih cenderung mengutamakan pengendalian pandemi.

“Artinya ini sejalan dengan teori bahwa manusia hanya akan optimal berekonomi saat kesehatan dan keamanannya terjamin,” ujar Dicky.

Dicky menambahkan pelonggaran PSBB harus benar-benar dilakukan dengan ketat. Sebab, dijelaskan Dicky bahwa provinsi Jilin China dengan lebih dari 100 juta penduduk sudah mulai mengalami kembali lockdown pasca kasus di Wuhan dinyatakan aman.

Fakta itu, kata dia menunjukkan ancaman gelombang kedua di China sudah jelas di depan mata.

“Saya ingin mengulang kembali pernyataan saya terkait situasi global dan nasional pandemi Covid-19 bahwa tidak ada satu pun negara yang bisa aman sampai seluruh negara aman,” ujarnya.

Dicky menyebut Kota Jilin dan Provinsi Heilongjiang dengan penduduk sekitar 100 juta jiwa menjadi klaster baru Covid-19. Kasus diketahui dari orang-orang yang tertular di luar negeri dan datang ke China.

Dalam penelitian, dia mengatakan pasien dari klaster itu membawa virus lebih lama, lebih lama untuk pulih, dan munculnya gejala juga lebih lama sekitar 1 sampai 2 minggu dibanding Wuhan.

“Pasien umumnya mengalami kerusakan paru. Sementara di Wuhan pasien menderita kerusakan multi-organ (jantung, ginjal dan pencernaan). Perjalanan ini masih panjang, sehingga perlu strategi yang komprehensif,” tutup Dicky. (mik/mik)