Kembang Kempis Bengkel Tambal Ban Selama Pandemi Corona

Kembang Kempis Bengkel Tambal Ban Selama Pandemi CoronaUsaha tambal ban Rahim termasuk yang sangat terdampak selama pandemi virus corona. (CNN Indonesia/ Rayhand Purnama)

LENSAPANDAWA.COM – Bengkel tambal ban milik Rahim buka lebih siang dari jadwal rutin. Sebab, rutinitas masyarakat tidak lagi normal selama lebih dari dua bulan terakhir akibat pandemi virus corona (Covid-19).

Lapak bengkel tambal ban Rahim sebenarnya cukup besar. Kiosnya lebih mirip bengkel motor dengan beragam onderdil yang dijajakan, lebih dari tambal ban gubukan di pinggir jalan.

Biasanya bengkel Rahim yang berlokasi di kawasan Depok, Jawa Barat ini sudah siaga menyambut pelanggan sejak pukul 06.30 WIB. Ia siap membantu pengendara yang kebetulan apes akibat mengalami ban bocor atau masalah lain pada kendaraan saat bepergian.

Kini Rahim lebih banyak duduk-duduk santai, sesekali melamun memandangi lalu-lalang kendaraan di Jalan Raya Tanah Baru, Depok.

“Sekarang jadi buka lebih siang. Kalau dulu jam setengah tujuh pagi saya sudah siap, sekarang jam sembilan,” kata Rahim sembari mengenakan masker hitam, kepada CNNIndonesia.com.

Ia mengatakan selama pandemi pengendara makin jarang singgah ke bengkel untuk menggunakan jasanya, terlebih pada jam padat pagi hari. Rahim paham saat ini akses masyarakat keluar rumah sudah dibatasi selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Makanya sekarang saya buka lebih siang. Biasanya dulu, pagi hari ada saja yang isi angin, entah ganti oli, tambal ban, terus isi bensin. Karena kebetulan kan saya ada jual bensin eceran. Tapi sekarang ya mau bagaimana lagi,” ucap Rahim.

Kondisi yang serba ‘abnormal’ membuat Rahim sulit memenuhi kebutuhan keluarga. Penghasilan harian tak menentu. Yang jelas, jauh dari rata-rata pendapatan sebelum masa corona.

Beberapa kali dia mengeluhkan penghasilannya yang kini benar-benar tipis seperti ban motor yang kempis karena bocor. Di sisi lain, hanya usaha bengkel tambal ban ini yang bisa dia kerjakan untuk penghidupannya.

“Kalau ngomongin berapa, ya tidak seberapa lah. Kita ini kan cuma kerja ini. Tapi yang jelas turun jauh, ada kali berkurang lebih dari setengah,” kata dia.

“Ya sekarang seperti ini saya lebih banyak menunggu. Ada yang datang saja masih bersyukur,” ucap pria asli Sumatera Utara itu.

Tak Ada Bantuan Pemerintah

Sejauh ini Rahim mengupayakan bertahan hidup bersama istri dan kedua anaknya dari penghasilan seadanya. Tidak ada sepeser pun bantuan pemerintah setempat masuk ke kantong pribadinya untuk meringankan beban di masa sulit ini.

“Ya saya ini tidak ada dapat bantuan, tidak tahu juga kenapa,” ucap dia.

Rahim mengaku heran, namun tidak ingin terlalu memikirkan kemana bantuan pemerintah itu mengalir.

“Bukannya apa, kalau dibilang susah, saya juga susah. Penghasilan saya ini terdampak. Pendapatan hanya dari sini. Tapi ya sudah lah,” katanya.

Ketimbang memikirkan bantuan, Rahim lebih meminta pemerintah segera membuka menyudahi penerapan PSBB. Kata dia PSBB kini sudah tak ada artinya, sebab orang lebih banyak mengabaikannya.

“Ya kan banyak, bukannya di rumah ini malah keluyuran. Ada saja itu. Sudah lah buka saja [PSBB] biar beraktivitas seperti semula, tapi harus sadar juga masyarakat untuk pencegahan,” kata dia. (ryh/bac)