Peneliti Temukan Konduktor Sinar UV Murah Pembunuh Corona

Peneliti Temukan Konduktor Sinar UV Murah Pembunuh CoronaIlustrasi sinar ultraviolet. (dok. Surgika Alkesindo)

LENSAPANDAWA.COM – Para peneliti dari Universitas Minnesota dan dua universitas Jepang menyatakan paparan sinar ultraviolet (UV) dengan intensitas tinggi dapat membunuh virus corona SARS-CoV-2.

Mereka mengatakan radiasi UV dalam kisaran 200 hingga 300 nanometer dapat menghancurkan virus, serta membuat virus tidak mampu bereproduksi dan menginfeksi.

Adopsi luas dari pendekatan UV yang efisien banyak diminati selama pandemi corona saat ini. Namun, peneliti mengatakan pendekatan itu membutuhkan sumber radiasi UV yang memancarkan sinar UV dosis tinggi.

Perangkat dengan dosis tinggi sebagai sumber radiasi UV yang saat ini tersedia pada umumnya mercury-containing gas discharge lamp yang mahal, yang membutuhkan daya tinggi, memiliki masa hidup yang relatif singkat, dan berukuran besar.

Melansir Eurek Alert, para peneliti telah memastikan light-emitting diode (LED) bisa menjadi solusi pengganti mercury-containing gas discharge lamp yang mahal. Mereka mengaku  telah mengembangkan diode pemancar sinar UV berkinerja tinggi, yang akan jauh lebih portabel, tahan lama, hemat energi, dan ramah lingkungan.

“Anda harus memastikan dosis cahaya UV yang cukup untuk membunuh semua virus. Ini berarti Anda memerlukan UV LED berkinerja tinggi yang memancarkan intensitas tinggi sinar UV, yang saat ini dibatasi oleh bahan elektroda transparan yang digunakan,” kata Roman Engel-Herbert.

Para peneliti menyampaikan menemukan bahan baru dengan komposisi yang tepat adalah kunci untuk meningkatkan kinerja UV LED. Oleh karena itu, mereka menyampaikan telah menemukan fakta bahwa strontium niobate films bisa menjadi konduktor transparan UV.

Material strontium niobate dianggap sebagai langkah penting menuju pematangan teknologi yang memungkinkan untuk mengintegrasikan bahan baru ini ke dalam LED UV dengan biaya rendah dan kuantitas tinggi.

Para peneliti menyampaikan penemuan terobosan itu berpotensi menawarkan solusi untuk menonaktifkan Covid-19 dalam aerosol yang mungkin didistribusikan dalam sistem bangunan gedung HVAC (Heating, Ventilation, and Air Conditioning).

Area aplikasi lain untuk disinfeksi virus adalah area padat dan sering dihuni, seperti teater, arena olahraga dan kendaraan transportasi umum seperti bus, kereta bawah tanah, dan pesawat terbang.

Melansir Nature, peneliti menyampaikan konduktor yang diketahui transparan dalam spektrum ultraviolet (UV) memiliki panjang gelombang di bawah 320 nm.

Semikonduktor wide-bandgap yang saat ini digunakan sebagai konduktor transparan UV memiliki konduktivitas listrik yang tidak memadai, yang merupakan tantangan signifikan untuk mencapai elektroda dengan resistansi rendah.

Terkait dengan hal itu, peneliti mengusulkan SrNbO3 sebagai bahan konduktor transparan alternatif dengan kinerja luar biasa tidak hanya dalam hal yang terlihat, tetapi juga dalam spektrum UV.

SrNbO3 memiliki transparansi tinggi terhadap sinar UV yang berasal dari isolasi energik dari pita konduksi, yang menggeser tepi penyerapan ke dalam sinar UV.

SrNbO3 diketahui berada dalam rentang spektral UV 260-320 nm, setara dengan indium tin oxide, menjadikan SrNbO3 bahan elektroda yang ideal dalam kinerja tinggi dioda pemancar cahaya UV yang relevan dalam aplikasi sanitasi, makanan kemasan, fotokemoterapi UV, dan penginderaan biomolekul.

(jps/DAL)