Jerit Pedagang Ponsel Usai Anies Perpanjang PSBB Jakarta

Jerit Pedagang Ponsel Usai Anies Perpanjang PSBB JakartaIlustrasi penjual ponsel. (CNN Indonesia/Galih Gumelar)

LENSAPANDAWA.COM – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan hari ini (4/6) resmi memperpanjang pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) demi memutus penularan virus corona. Anies mengatakan perpanjangan PSBB Jakarta kali ini memasuki fase transisi selama bulan Juni.

Selama PSBB, ada beberapa sektor yang diizinkan untuk kembali beroperasi salah satunya pusat perbelanjaan atau mal mulai 15 Juni 2020. Sejumlah pedagang ponsel yang menjajakan produk mereka di mal pun sebetulnya menyayangkan keputusan PSBB diperpanjang.

Menurut Patrick, pedagang Oyo Cell di ITC Roxy Mas, kebijakan itu malah mematikan para pelaku wiraswasta khususnya pedagang ponsel yang lebih mengandalkan platform offline untuk menjual barang dagangannya.

“Kebijakan ngawur. Yang pasti dampaknya negatif buat pelaku usaha, mematikan para pelaku usaha. Ini kan politik buat mereka dengan pemberlakuan PSBB, duitnya mengalir ke pemerintah daerah, ada bantuan dari pusat, ujung-ujungnya duit,” kata Patrick saat dihubungi CNNIndonesia.com lewat sambungan telepon, Kamis (4/6).

Senada dengan Patrick, Salim salah satu pedagang ponsel Crystal Phone di Mal Tamini Square pun menilai seharusnya sedari awal tidak diterapkan PSBB. Sebab menurut dia sebagai pelaku usaha, kebijakan ini malah merugikan dari sisi finansial.

“Kalau secara pribadi, tidak harus terjadi seperti hari ini. Tapi dari awal semua ya pemerintah pusat terutama lalu ke pemerintah daerah sehingga masalah ini berlarut-larut. Sampai hari ini tidak kelar, otomatis ada kerugian finansial,” tutur Salim kepada CNNIndonesia.com.

Salim mengatakan selama pemberlakuan PSBB, pihaknya mengalami penurunan pendapatan total sebesar 75 persen dibanding sebelum pandemi virus corona masuk ke Indonesia.

Sementara itu Patrick menyebut pendapatannya turun drastis sampai 80 persen. Sebab, saat kondisi normal, ia bisa meraup omzet Rp50 juta per hari.

“Pendapatan per hari misalnya hp Rp50 juta, hari ini Rp10 juta saja susah. Berarti penurunan bisa sampai 80 persen,” kata dia.

Demi tetap menambah uang saku, selama kebijakan PSBB ini Patrick mengakali penjualan produk ponselnya lewat platform online seperti di e-commerce maupun media sosial.

“Pakai cara lain deh kita, lewat media sosial, e-commerce, sampai mulut ke mulut, kita kirim pakai Grab dan Gojek, JNE dan Ekspedisi bahkan saya yang antar sendiri. Pokoknya karena toko ditutup, jadi kita para pelaku usaha ini mesti punya kreativitas masing-masing,” tuturnya.

Sama halnya dengan Patrick, Salim juga mesti beralih ke platform online untuk menjual produk ponselnya meskipun penjualan offline lebih menguntungkan.Lalu Salim mengatakan pihaknya akan tetap mempertahankan metode penjualan online untuk menaikkan reputasi tokonya.

“Kalau secara finansial memang kita lebih enak di offline karena kita lebih memberikan kontribusi kepada karyawan. Kalau di online lawannya itu kompetitor yang bukan orang biasa, competitor kita salah satunya vendor besar semua,” kata Salim.

“Lalu kita juga akan tetap mempertahankan online setelah PSBB dicabut karena untuk menaikkan brand toko saya dan memang untuk meraup milenial,” pungkasnya.

(din/DAL)