Panti pijat di Taiwan sepi, wabah corona lumpuhkan pariwisata

Panti pijat di Taiwan sepi, wabah corona lumpuhkan pariwisataARSIP FOTO : Seorang wanita, menggunakan masker pelindung, berjalan melewati poster lowongan pekerjaan Kementerian Pertahanan Nasional di Taipei, Taiwan, Senin (20/4/2020), di tengah wabah virus corona (COVID-19). REUTERS/Ann Wang/nz/djo

LENSAPANDAWA.COM – Dengan Taiwan penutupan perbatasan bagi wisatawan sebagai upaya mengendalikan penyebaran virus corona, staf panti pijat Dynasty di Taipei tidak banyak melakukan pekerjaan sepanjang hari.

Jumlah pelanggan yang berkunjung ke panti pijat itu anjlok, dari sekitar 600 orang sehari menjadi hanya satu atau dua orang.

"Sekarang setelah kami masuk kerja, kami melihat lobi sangat kosong, dan tidak ada pelanggan. Satu-satunya hal yang dapat kami lakukan untuk menghabiskan waktu adalah berjalan di lobi. Apa yang bisa kami lakukan? Tidak ada pelanggan. Ini membuat saya sakit kepala," kata Huang Mei-hui, karyawan panti pijat Dynasty.

Industri pariwisata Taiwan telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, yang didorong oleh pemerintah untuk mendiversifikasi ekonomi dengan memanfaatkan berbagai makanan terkenal di dunia dari pulau itu, keindahan alam dan reputasi Taiwan sebagai demokrasi paling liberal di Asia.

Namun, wabah COVID-19 telah melumpuhkan industri pariwisata pulau tersebut, bahkan setelah pemerintah meluncurkan subsidi dan pinjaman berbunga rendah untuk membantu perusahaan-perusahaan yang paling terkena dampak.

Taiwan telah mengendalikan wabah COVID-19 dengan baik berkat deteksi dini dan langkah-langkah pencegahan serta sistem kelas utama kesehatan masyarakat.

Akan tetapi, seperti banyak pihak lainnya, Taiwan juga telah menutup sebagian besar perbatasannya untuk perjalanan internasional.

Akibat penutupan itu, tempat-tempat seperti panti pijat Dynasty, yang bergantung pada turis Jepang dan Korea Selatan dan menyebut diri sebagai panti pijat 24 jam di Taipei, sumber utama penghasilan mereka praktis telah menghilang.

"Tepat setelah wabah terjadi, bisnis kami menjadi nol, karena kami yang sebelumnya memiliki 600 pelanggan per hari menjadi hanya satu atau dua paling banyak. Adapun staf kami, mereka harus pergi dan mencari penghasilan lain, tetapi pada dasarnya tidak ada pekerjaan untuk industri ini," kata wakil manajer umum Dynasty, Wang Zhe-qian.

Rekannya, Huang, dengan sedih mengingat masa-masa saat mereka masih begitu sibuk sehingga dia pernah diam-diam berdoa agar tidak ada lagi pelanggan yang muncul. Pada masa itu, ia hampir tidak punya waktu untuk makan.

Namun, dia sekarang khawatir tentang masa depannya.

"Saya berusia 64 tahun dan saya sudah bekerja di sini selama 16 tahun. Saya sudah tua sekarang dan tidak akan dapat menemukan pekerjaan lain," ujar Huang.

Sumber: Reuters

Demikian berita ini dikutip dari ANTARANEWS.COM untuk dapat kami sampaikan kepada pembaca sekalian.

Comment here