Habib Abu Djibril Basyaiban ,Pembina Pesantren RI.” Boarding School Bukanlah Pesantren”

0
37

LENSAPANDAWA.COM, – Jakarta minggu 12-12-2021 dengan maraknya beberapa hari pemberitaan oknum guru yang bernama herry wirawan melakukan asusila terhadap beberapa murid hingga hamil di rumah tahfidz madani boarding school bandung.

 

Habib Abu Djibril Basyaiban Pembina Pesantren republik indonesia (Pesantren RI) ketika di temui awak media menjelaskan bahwa yang telah melakukan asusila itu adalah oknum guru boarding school bukan pesantren Boarding school hanyalah sekolah berasrama dan akhir zaman ini banyak orang punya duit membangun rumah tahfidz, asrama sekolah mereka sudah mengaku punya pesantren dimana mana padahal huruf hijaiyah saja tidak hafal tidaklah sesederhana itu orang tiba tiba menjadi pemangku pesantren Muassis atau pendiri pesantren harus betul betul faham ilmu agama,mulai ilmu alat hahwu shorof Alqur’an hadits fiqh dan yang lainnya yang berhubungan dengan akhlak adab ilmu agama dan yang pasti seorang pemangku pesantren pasti dan wajib pernah nyantri menjadi santri di pesantren.

 

Pesantren jauh berbeda dengan boarding school Habib Abu Djibril Basyaiban menjelaskan bahwa pesantren selalu berpegang teguh dengan tigal hal

1. At-Talaqqi
Yaitu belajar dengan seorang syaikh yang alim, sholeh dan mempunyai sanad ilmu yang jelas, dari guru ke guru, dari alim ke alim, dari syaikh ke syaikh, sampai kepada sumbernya ilmu yaitu Sayyiduna Muhammad صلى الله عليه وسلم.

 

At-Talaqqi ini tidak boleh didapatkan melalui media-media seperti radio, televisi, internet, media online, dan lain sebagainya. Akan tetapi, At-Talaqqi diperoleh dengan cara kita bermuwajahah dan musyafahah langsung di depan guru kita. Yang mana bila didapatkan suatu permasalahan agama maka guru kita menjadi tempat kembali untuk bertanya.

 

Lihatlah bagaimana orang-orang pada zaman dahulu tidak ada yang menggunakan teknologi yang namanya internet handphone atau smartphone, tetapi menghasilkan banyak ulama besar.

 

2. At-Taraqqi
Yaitu peningkatan kualitas diri di hadapan Allah dengan berbagai macam bentuk ketaatan seperti sholat, zikir, tilawah, dan amalan ibadah lainnya. Semakin hari akan semakin meningkat dan semakin baik, bukan sebaliknya yang semakin menurun.

 

Habib Abu Djibril Basyaiban selaku Pembina Pesantren Republik Indonesia (Pesantren RI) juga menegaskan bahwa menimba ilmu agama itu bukan melalui media seperti siaran radio, televisi, atau media online. Boleh kita mengikuti dan menimba ilmu melalui media-media tersebut asalkan kita mampu menjaga diri dengan benar sehingga tidak terjerumus di dalam faham-faham di luar Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

 

Pastikan media tersebut jelas bersumber dari kalangan Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Namun, perlu diperhatikan belajar ilmu agama melalui media seperti ini bukanlah merupakan bentuk At-Talaqqi. Sifatnya hanya sebagai penambahan saja.

 

3. At-Tawaqqi
Yaitu menjaga atau penjagaan diri dari berbagai bentuk kemungkaran atau kemaksiatan. Penjagaan diri ini hanya boleh dilakukan apabila sudah melewati At-Talaqqi atau sudah berguru Kita tidak dapat menjaga diri dan meningkatkan ibadah kalau tidak ada guru.

 

Dengan tidak mempunyai guru akan memudahkan terkena badai fitnah akhir zaman kerana ia tidak mempunyai panutan atau pegangan di dalam hidupnya yang dapat menuntunnya ke jalan Allah.

 

Untuk itulah sebagai seorang Muslim perlu untuk mempunyai kekuatan dan hubungan dengan orang-orang sholeh yakni para guru dan masyaikh yang jelas sanadnya Dan Habib Abu Djibril Basyaiban menegaskan dan menghimbau para pembawa berita juga harus cerdas dan faham bahwa boarding school bukanlah pesantren.(RED )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here